Minggu, 28 Oktober 2012

TELAAH PROSA




Deskripsi Tokoh

Tokoh “Aku”
Tokoh aku seorang pria berumur sekitar 40 tahun, mapan (finansial bagus) punya pekerjaan mungkin dibidang bagian perekonomian (sebab pada kolom 4 ia digambarkan Mak Toha mau jadi saudagar). Tokoh “Aku” pernah kuliah di UGM, tidak diinformasikan Departemen bidang apa, patuh dan santun sebagai anak terbukti dengan kalimat pada kolom 1/paragraph 3:”aku tak mau jadi anak durhaka”. Terbukti ia segera ke Lhokseumawe setelah ibunya 2 kali menginterlokal mengabarkan ia sudah diangkat keluarga menjadi Ketua Panitia Pemindahan Kuburan Kakek. Tokoh “Aku” punya stamina cukup baik, terbukti sanggup mengendarai mobil sendirian dari Lampung ke Lhokseumawe.
Tokoh “Aku” juga menunjukkan sikap santun, sabar saat berdialog dengan Mak Toha, Ibunda Ali. Tokoh “Aku” melewati daerah dan kota Sidikalang sebelum sampai ke Lhokseumawe, dengan kenangan yang bagus tentang dirinya yaitu dia pernah punya teman bernama Ali, keturunan bangsawan, anak pedagang nilam, teman SMA di Lhokseumawe yang seniman, ia piawai menari Seudati, pemain drama, pendeklamasi yang handal, pandai 4 bahasa; Indonesia, Arab, Inggris dan Aceh, hal ini dibuktikannya dengan membaca puisi dihadapan konsul Asing di Medan. Disamping itu Ali pernah menjadi guru bahasa Inggris sepulang “merantau” di Libya. Tokoh “Aku” heran   mengapa orang sepintar dan sebaik Ali harus mati di tembak TNI dengan alasan ekstrimis dan pengkhianat pada masa DOM (1999) di Aceh. Tokoh “Aku” seorang yang sabar, perilakunya penuh pertimbangan melihat dan mempelajari situasi dahulu sebelum gegabah bertindak. Hal ini terbukti dari perilakunya yang spontan tidak memenuhi permintaan keluarga untuk mengusulkan kepada pemerintah agar kakek mereka menjadi pahlawan Nasional. Ia merasa tidak adil bila hanya kakek yang diusulkan menjadi pahlawan nasional, walaupun setelah pembongkaran kuburan, tengkorak Ali dan tengkorak kakek sama-sama berlubang di kening karena tembakan pistol oleh komandan terhadap pemberontak yang gigih. Bedanya hanya kakek ditembak tentara Jepang yang merupakan tentara fasis kejam dan tengkorak Ali ditembak oleh komandan TNI dengan senjataVickers.

Mak Toha
-          Perempuan separuh baya, pemilik kebun nilam, keturunan bangsawan. Sederhana, merasa bangga bahwa anaknya Ali telah mati syahid, berarti dia sudah punya tabungan di surga.
-          Memiliki anak bernama Ali dan adiknya Ibrahim. Ali adalah teman baik tokoh Aku sejak SMP di Lhokseumawe, tetapi sangat terpukul sebab si Ali dibunuh TNI dengan ditembak  kepalanya, karena dituduh pemberontak dan dianggap pernah latihan militer di Lybia.
-          Mak Toka puas dan bangga menemukan tengkorak Ali, membersihkannya, mengkafaninya  dan memakamkan kembali
-          Mak Toka pernah melihat kebenaran bahwa Ali benar-benar mati ditembak dengan pistol Vickers oleh TNI, dan ia menyimpan gigi platina Ali di dompetnya sebagai kenangan dan tidak menguburkan gigi tersebut bersama tengkorak Ali.
Tokoh Ali
-          Pemuda sebaya tokoh Aku, umur sekitar 40 tahun. Mati muda karena ditembak TNI pada masa DOM (1990) di Aceh. Ia dituduh mengikuti latihan militer di Lybia dan di Aceh dinilai temasuk kelompok ekstrim. Dalam kenangan tokoh Aku, Ali adalah pemuda ceria, cekatan dna berbakat seni, ia seorang penari sendati yang handal, mampu bermain drama dan berdeklamasi, mampu membaca karya-karya Shakespeare.
Ali berbakat sebagai pemimpin. Pada waktu bersekolah di SMA di Lhokseumawe, tokoh Aku melihat Ali sangat berbakat memimpin  teman-teman sekelasnya untuk berlatih drama, menyusun jadwal dan lokasi pemutaran drama “ Tanda Silang” saduran Sitor Situmorang. Minat Ali dalam bidang puisi semakin bertambah setelah ia dikirimi pamannya yang tinggal di Singapura satu buku kumpulan puisi Shakespeare. Kemampuan bahasa inggris Ali yang tinggi membuat ia mampu mendalami makna-makna puisi Shakespeare. Ali ternyata mahir dalam 4 bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Bahasa Aceh, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Kemampuan ini dipraktekan Ali saat membaca satu judul puisi kematian karya Shakespeare, lalu diterjemahkan dalam 3 bahasa lain, Aceh, Arab dan Inggris. Penonton mengagumi ulah Ali ini termasuk lonsulat asing yang diundang  pada acara tersebut. Ali pernah patah hati, yaitu saat gadis yang dicintainya Cut Nur’aini menikah dengan Tengku Faisal, saudagar Aceh yag tinggal di Malaysia. Kegiatan Ali lainnya adalah menjadi guru bahasa inggris. Ali atas biaya ibunya, yang saudagar nilam pernah merantau ke Lybia, belajar menjadi guru bahasa inggris. Ali pernah beberapa waktu mengagumi diktator Lybia Muammar Khadafy dan mengklaim dirinya  sebagai “Putra Khadafi” tersebut. Ini terbukti dari penjelasan tokoh Aku yang menyatakan pernah mendapat surat dari Tripoli dengan tanda tangan “Putra Khadafy”  tersebut. Kepergiannya menuntut ilmu di Lybia justru digunakan TNI untuk menyatakan Ali pernah ikut latihan militer di Lybia, dan membuat ia dinilai sebagai tokoh ekstrim di Aceh pada masa DOM (1990) sehingga ia harus mati ditembak komandan TNI tepat di keningnya.
Ali memiliki adik bernama Ibrahim yang menjadi saudagar nilam. Ia bersikap tidak meniru Ali yang ekstrem. Kesehariannya ia mengenakan stelan jas yang dinilainya cocok untuk orang yang berprofesi saudagar seperti dirinya.
Pembongkaran kuburan Ali yang dimakamkan secara massal dilakukan atas inisiatif keluarga dan orang kampung di kuburan massla dekat  Balai desa (Meunasah) di Desa Daya Baureuh di Aceh Timur. Tengkorak Ali dibersihkan, dikafankan secara patut. Keluarga dapat membuktikan bahwa Ali benar mati ditembak, sebab pada tengkorak kepala Ali ditemukan lobang dibagian kening, di balik lobang itu penuh dengan dengan tanah tapi berisi satu buah peluru Vickers. Atas pertanyaan tokoh “Aku” kepada tentara yang mengawasi pembongkaran itu, tokoh “Aku” menyimpulkan Ali benar ditembak dari jarak dekat oleh komandan menggunakan pistol Vickers. Informasi ini disimpan terus di hati tokoh “Aku” dan peluru Vickers disimpan di saku tokoh “Aku”.

Deskripsi Latar

1.      Latar tempat
(catatan: tempat yang sesuai dengan plot cerita). Latar tempat di Dayah Baureuh, tempat penguburan ekstrimis korban DOM di Aceh  sekitar tahun 1.900an. Latar tempat penguburan masal itu berupa tanah kosong ditumbuhi semak diluar kampung tempat pertemuan rombongan Sidikalang dan rombongan Lhoksemawe adalah di “Meunasah”, balai kota Aceh Timur. Tidak banyak yang diinformasikan teks tentang latar tempat, tetapi di Meunasah ini terbongkar rahasia bagaimana Ali dan teman-temannya yang dituduh penghianat oleh TNI dibantai. Ada tengkorak yang masih mengenakan celana blue-jean, dan ini memudahkan dikenali sebab masih ada KTP di saku mereka. Tengkorak Amir dikenali dengan cincin tembaga bermata  akik darah di jarinya. Tengkorak Buyung ditandai dengan cincin  batu pirus persia dijarinya. Tengkorak Ali ditandai dengan adanya gigi platina dan ada lubang bekas peluru pistol Vickers, serta satu butir peluru pistol vickers dibalik lubang tersebut.

Latar tempat kedua di Lhokseumawe , di tanah pekuburan masal korban penembakan tentara Jepang saat menduduki  Aceh pada tahun 1945an. Latar kedua ini juga tidak menggambarkan rincian suasana tempat. Apakah daerah pegunungan, hutan atau dataran penuh semak.
Dari kedua tempat penguburan korban pembunuhan sadis oleh TNI sekitar tahun 1990an atau penguburan korban tentara jepang yang fazis dan kejam, datanglah ide bagi tokoh Ali sebagai ketua pembongkaran kuburan kakek, sebenarnya kedua tokoh yang menjadi korban, apakah sang kakek atau Ali, keduanya sebenarnya dapat dijadikan pahlawan. Sang kakek gagah berani melawan penjajah jepang, dan Ali dibunuh tanpa diadili karena bertentangan dengan konsep TNI pada waktu itu; yang merupakan bangsanya juga.
2.      Latar waktu:
a.    Cerita berlangsung sekitar 20 hari, mulai dari keberangkatan Aku dari kampung ke Lhokseumawe, sebab sudah ditetapkan keluarganya  untuk menjadi ketua pemakaman ulang sang kakek.
b.    Waktu terjadi bukan musim hujan, sebab tidak ada satu peristiwapun  yang ditandai dengan kata-kata mendung, hujan atau baju hujan.
3.      Latar Budaya
a.    Menunjukan budaya orang-orang di Sidikalang dan Lhokseumawe yang beragama Islam, ditandai dengan salam dalam bahasa Arab;” Assalamualaikum, Kain kafan, mati syahid, pundi-pundi di syurga, shalat jenazah, mesjid di Meunasah, kata keterangan waktu “menjelang subuh”. Kata sapaan “Umi” untuk memanggil ibu tokoh Aku”. Budaya kampung juga terasa dari informasi tentang kudapan yang disediahkan Mak Toka untuk tokoh aku saat ia berkunjung  ke rumah Mak Toka di Sidikalang. Hidangan  tersebut  berupa teh, bau harum daun nilam, saat tokoh Aku baru memasuki daerah Sidikalang
b.    Budaya orang-orang yang berjiwa patriot, ada banyak pemuda kampung yang dibunuh massal dan dikuburkan massal sewaktu masa penjajahan Jepang dan masa DOM (Daerah Operasi Militer).


Diskusi :
Cerita ini menyentuh perasaan, sebab menggambarkan tanggung jawab keluarga-keluarga yang ingin membongkar kuburan saudara-saudaranya yang dibunuh tanpa diadili baik oleh tentara Jepang tahun 1945an atau oleh TNI tahun 1900an. Tanggungjawab keluarga adalah merawat jenazah/tengkorak dan mengabulkan sesuai peraturan agama Islam, yaitu dibersihkan, dikafani dan dishalati jenazahnya.

Cerita ini tidak menginformasikan nama tokoh, umur dan juga deskripsi detail dari kuburan massal, sehingga diperlukan kecermatan dan ketelitian dari pembaca untuk dapat mengumpulkan informasi tentang tokoh-tokohnya, latar dan tema cerita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berikan Komentar Anda dengan bijak